بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Selamat Datang di Blog Belajar Biologi

Taksonomi dan Ke(tidak)mampuan Indonesia

Indonesia dikenal sebagai negara megabiodiversity yang terdiri dari berbagai tipe ekosistem dari kedalaman dasar laut sampai puncak gunung. Namun, alangkah ironisnya jika kekayaan biodiversitas di dalamnya belum dapat diungkap karena minimnya jumlah tenaga ahli, yakni taksonom, di Indonesia.

Kepala Puslit Biologi LIPI menyatakan saat ini baru sekitar 20% dari total kekayaan flora dan fauna yang sudah diungkap. Untuk kelompok fauna yang kecil seperti serangga, baru 1% yang sudah berhasil diungkap. Hal ini disebabkan minimnya jumlah taksonom di Indonesia. Selain itu, sangat ironis ketika orang asing berbondong-bondong datang ke Indonesia untuk mengungkap biodiversitas di kedalaman laut, hutan, maupun kegelapan gua, sedangkan kita cukup puas menjadi penonton dan bertepuk tangan ketika berbagai temuan jenis baru diungkap dan dipaparkan peneliti asing di berbagai media.

Beberapa waktu lalu, peneliti senior di Puslit Biologi LIPI Dedy Darnaedy mengungkapkan kegelisahannya di media massa tentang ketidakmampuan taksonom Indonesia untuk mengklasifikasi dan memberikan nama jenis baru bagi hewan maupun tumbuhan. Mungkin pernyataan tersebut ada benarnya meskipun belum tentu menggambarkan kondisi sebenarnya dunia taksonomi di Indonesia. Alangkah baiknya jika kita bisa melihat latar belakang ketidakmampuan taksonom Indonesia sehingga bisa jernih melihat permasalahannya.



Alasan klasik

Dana penelitian merupakan salah satu alasan klasik dunia penelitian Indonesia. Berbagai pihak sepakat, alokasi dana penelitian masih sangat minim. Dari dana yang minim tersebut, sangat kecil yang dialokasikan untuk penelitian biodiversitas. Hampir semua dana penelitian biodiversitas mengucur dari lembaga donor asing dan hasil kerja sama dengan lembaga asing.

Selain itu, kesempatan untuk mengakses dana untuk penelitian taksonomi yang notabene adalah penelitian ilmu dasar sampai saat ini cukup berat. Kegiatan penelitian lebih dituntut mengedepankan asas manfaat dalam arti sempit, yaitu bermanfaat bagi masyarakat dan bernilai ekonomi yang mungkin 'saat ini' belum bisa dijawab penelitian taksonomi.

Proposal penelitian dengan topik basic science seperti taksonomi bersaing ketat dengan penelitian yang lebih bersifat terapan dan menjawab tema pokok kegiatan penelitian Indonesia. Dengan demikian, penelitian taksonomi seperti menjadi anak tiri di negeri kaya biodiversitas.

Selain akses dana, fasilitas pendukung untuk kegiatan penelitian taksonomi juga minim. Keberadaan fasilitas penting seperti mikroskop dengan jumlah dan kemampuan tinggi serta fasilitas digital imaging yang saat ini marak digunakan di bidang taksonomi belum banyak ditemukan di lembaga yang mengayomi para taksonom.



Kegagalan dunia pendidikan

Berkurangnya minat terhadap ilmu taksonomi bisa jadi disebabkan kegagalan dunia pendidikan untuk membuat taksonomi menjadi salah satu mata kuliah yang menarik dan penting untuk dipelajari.

Ada beberapa kemungkinan ilmu taksonomi kurang berkembang di Indonesia, sebagaimana diungkapkan banyak pakar taksonomi di Indonesia. Taksonomi dianggap kurang menyenangkan, bahkan membosankan, ilmu yang mandek dan belum menemukan manfaat. Metode pengajaran yang membosankan menjadikan taksonomi menjadi mata kuliah yang sekadar menghafal tanpa bisa memahami makna sebenarnya dan memetik manfaatnya.

Pengurangan jumlah mata kuliah dan jam kuliah tentang taksonomi di perguruan tinggi berdampak pada semakin berkurangnya materi yang diterima mahasiswa. Jumlah mata kuliah dan jamnya pun saat ini hanya setengah, bahkan seperempat dari jumlah total ketika saya duduk di bangku kuliah 15 tahun lalu. Untuk itu, hendaknya ada inovasi baru dalam pengajaran taksonomi di perguruan tinggi maupun di sekolah menengah.

Di era sekarang ini, dunia penelitian sedang gencar-gencarnya meneliti di bidang molekuler. Dampaknya taksonomi yang semula menjadi primadona ikut terpinggirkan karena dianggap ketinggalan zaman. Meskipun pendekatan molekuler saat ini juga marak digunakan di dunia taksonomi, penelitian molekuler tanpa dibarengi dengan pengetahuan taksonomi yang memadai dapat menyebabkan timbulnya permasalahan baru, bahkan kesalahan penarikan kesimpulan suatu penelitian.

Taksonom Indonesia sebenarnya mampu berkiprah dan memberikan sumbangan pengetahuan kepada masyarakat. Namun, publikasi tentang taksonomi di media massa yang mudah dijangkau masyarakat umum sangat minim, bahkan sama sekali tidak ada. Temuan jenis baru oleh taksonom Indonesia sepertinya tidak mendapat tempat di media nasional yang terkadang lebih banyak mengangkat temuan dari penelitian luar negeri yang diperoleh dari Sciencedaily, Science News, Reuters, atau media lain. Meskipun hal ini tidak sepenuhnya kesalahan media nasional, bisa juga disebabkan ketidaktahuan media nasional terhadap kiprah
para taksonom Indonesia.

Untuk itu, taksonom juga perlu berbenah dan becermin, sejauh mana temuan baru yang dipublikasikan di jurnal taksonomi dapat tersampaikan kepada masyarakat luas melalui media yang mudah dijangkau. Menjalin hubungan dengan media adalah salah satu cara taksonom untuk menjual citra sehingga taksonom Indonesia bisa dikenal dan dihargai bangsa sendiri.

Lemahnya public outreach lembaga yang mengayomi para taksonom perlu menjadi bahan evaluasi. Selanjutnya, lembaga seperti museum yang menjadi bahtera terakhir bagi taksonom bisa berbenah dan bermetamorfosis menggunakan segala media yang saat ini banyak digunakan. Terobosan untuk menyampaikan segala temuan baru bisa dilakukan untuk mengantisipasi jalur birokrasi formal yang justru terkadang memperlambat arus informasi kepada masyarakat.



Tantangan

Sebagai salah satu cabang ilmu biologi, taksonomi mempunyai manfaat besar karena menjadi dasar mengenal, mengelompokkan, dan memberi nama semua organisme yang ada di bumi ini.

Kesalahan identifikasi karena lemahnya pengetahuan taksonomi bisa menyebabkan bencana di bidang pertanian dan mengancam ketahanan pangan. Tingginya lalu lintas hasil pertanian antarnegara berpotensi sebagai jembatan masuknya organisme asing yang dapat mengancam keberadaan organisme asli, jika tidak mengenal betul identitas suatu organisme.

Dari sisi konservasi, taksonomi adalah salah satu kunci penting untuk menentukan status suatu kawasan. Tanpa adanya taksonomi, sulit untuk bisa mengetahui sejauh mana kekayaan biodiversitas yang ada di suatu kawasan. Flora dan fauna yang unik, khas, dan bahkan endemik hanya dapat ditentukan taksonomi. Tanpa taksonomi, kita tidak bisa memunculkan kelebihan dari kekayaan biodiversitas yang ada di bumi Indonesia.

Pertanyaan atas kenyataan yang ada, masih adakah tempat bagi taksonom Indonesia di tengah hiruk pikuk perpolitikan nasional? Mungkinkah masyarakat mengenal profesi taksonom yang telah berjasa memberi nama atas nasi yang kita makan dengan nama Oryza sativa? Lantas, masihkah taksonomi mendapat tempat di bangku sekolah dan bangku kuliah sebagai garda utama pendidikan di negara yang kaya biodiversitas ini?

Semoga, sebagai negara megabiodiversity, bangsa Indonesia mampu mengungkap kekayaan tersebut. Taksonom Indonesia mampu menunjukkan kiprah pada masyarakat luas. Tidak hanya terbelenggu dalam kungkungan ruang koleksi jutaan spesimen dan terjepit tumpukan jurnal ilmiah. Mungkin, sudah saatnya taksonom Indonesia narsisistis agar terlihat sebagai bagian kemajuan bangsa.




Artikel ini ditulis oleh Cahyo Rahmadi, Peneliti Pusat Penelitian Biologi LIPI dan mahasiswa di Faculty of Science Ibaraki University, Jepang : mediaindonesia, Kamis, 07 Oktober 2010
Artikel ini diunggah oleh Pramono pada tanggal 06 Oktober 2010


Sumber : klik disini

0 komentar:

Posting Komentar